Nggak Jadi Merantau (lagi)

anak-rantau
Anak rantau via inovasee.com

Well, selamat malam sobat, kali ini aku mau share tentang pengalamanku terkait rencana yang entah itu tertunda atau malah tercancel. Hehe.. Apapun itu, aku patut mensyukurinya. Lagian hidup memang seringkali di luar perkiraan, bukan?

Beberapa waktu yang lalu aku bertekad untuk segera mandiri alias mandi sendiri. Ups, maksudku ingin bisa menjalani hidup secara mandiri seperti saat aku kuliah dulu. Pilihan kota tujuan pun jatuh pada kota Surakarta (lagi). Kota tempatku meraih gelar sarjana.

Beberapa tahun setelah lulus dari Universitas Sebelas Maret, hidupku berlanjut di Magelang. Sebelum wisuda, aku diterima bekerja di Magelang sebagai salah satu marketing bank swasta, inisialnya B, T, P, dan N. Hahaha.. keceplosan dehh..

bank
Kerja di Bank via investopedia.com

Belum ada 2 tahun menjalani pekerjaanku sebagai bankir, perasaanku sudah mulai tidak karuan. Ada rasa takut, gelisah, cemas, gundah gulana, dan manis asam asin rasanya. Tiba-tiba muncul hidayah terkait hukum bekerja di bank.

Memang tak mudah bagiku memutuskan untuk berganti haluan. Nyamannya gaji bulanan dengan nominal yang cukup lumayan harus segera aku tinggalkan. Kamu mungkin paham hukum apa yang ku maksud di atas. Tak perlu ku jelaskan ya?

Dengan pertimbangan selama 10 bulan sejak hidayah itu muncul, akhirnya aku putuskan: Resign. Dan terus berdoa agar aku tidak tergoda untuk kembali bekerja di dunia perbankan dan semacamnya. Alhamdulillah orang tua mendukung penuh atas keputusan ini.

Tak lama setelah melepas statusku yang (kata orang) cukup keren, aku mendapat jalan baru. Sebuah jalan yang mengantarku pada bisnis yang sedang ku geluti sekarang. Wirausaha memang telah lama menjadi profesi impianku saat masih mahasiswa.

wirausaha
Ganti haluan: Bisnis! via centerpulsa.com

Sedikit cerita, kegiatan sehari-hariku saat masih berstatus mahasiswa memang cukup sibuk. Selain berkuliah, berorganisasi, dan menjadi tim proyek dosen, aku juga berbisnis. Banyak jenis bisnis yang telah aku jalankan semasa merantau di Surakarta.

Aku bersyukur sudah dipertemukan dengan apa yang aku suka saat masih muda. Bisnis membuatku bersemangat, dan merasa berdaya. Ketika produk yang ku tawarkan dibeli orang lain, muncul rasa puas dan bangga dalam hati. Betapa bernilainya perasaan itu.

Hmm.. itu sedikit nostalgia masa-masa ketika masih merdeka sebagai anak kuliahan. Dari pengalaman itu membuat skill marketingku semakin terasah. Dan sekarang adalah momentum yang tepat untuk melanjutkan semangat berbisnis.

marketing
Marketing via 5seleto.com.br

Kini selain menjalankan sebuah usaha, aku pun bekerja di salah satu perusahaan swasta. Terkait posisi pekerjaanku sekarang, kamu pasti bisa menebaknya…. marketing (lagi). Hehe. Memang duniaku tak jauh dari marketing (pemasaran).

Aku yakin banyak orang di luaran sana yang risih, malas, bahkan anti pada pekerjaan marketing. Dengan berbagai alasan yang menurutku masuk akal (bagi tipikal orang seperti mereka). Ini bukan tentang profesi, tapi mindset dan jiwa.

Kalau kamu memang berjiwa indoor, maka pekerjaan marketing sama sekali tidak ku sarankan. Dunia marketing penuh dengan tantangan, target, dan ketidakpastian. Tapi jika sebaliknya, jiwamu outdoor. Maka tidak tepat kamu bekerja sebagai admin/CS.

passion
Mindset + Jiwa = Passion via dbhurley.com

Dunia itu memang bervariasi, tak semua bisa dipaksakan untuk sebuah pilihan. Sesuaikan dengan jiwamu, sesuaikan dengan kenyamananmu, sesuaikan pula dengan kepuasanmu. Aku menghargai variasi yang ada, aku pun respek dengan apapun pilihanmu.

Memang sih aku suka nulis, tapi ketahuilah, tanpa bergelut di bidang bisnis/marketing, hidupku serasa di dalam cangkang. Aku butuh mengenal dunia luar, aku butuh situasi yang selalu berbeda setiap saat. Inilah mindset dan jiwaku.

Oke mari kita kembali lagi ke topik merantau. Sebenarnya Magelang adalah tempat domisili awalku sebelum berkuliah di Surakarta. Otomatis orang tuaku tinggal di sini juga. Dekat dengan orang tua membuatku merasa terlalu nyaman.

Victory
Sukses via huffingtonpost.com

Inilah yang membuatku begitu bertekad untuk merantau lagi ke Surakarta. Aku ingin mandiri. Ingin terlepas dari orang tua. Dan aku mengukur diriku sudah mampu mewujudkan tekadku ini, baik mental maupun finansial.

Apalagi orang sukses memang banyak yang ‘jadi orang’ karena merantau. Entah karena terpaksa mandiri, atau memang sengaja ingin mandiri. Niatanku sih pilihan kedua. Akan tetapi, takdir berkata lain. Aku diterima bekerja di salah satu perusahaan di Magelang.

Yasudahlah, apa boleh buat. Mungkin ini sebuah petunjuk dari Allah SWT. Aku pun bisa menerima kehendak dan ketetapan ilahi ini. Siapa tau, aku bisa menjadi salah satu yang sukses tanpa harus merantau. Sukses di kota sendiri. Wallahu’alam 🙂

Iklan

6 pemikiran pada “Nggak Jadi Merantau (lagi)

  1. pembahasan yang menarik. tetapi menurut saya kalau tidak merantau juga bisa sih mandiri itu semua tergantung dari pemikiran diri sendiri hanya beda nya kalau merantau kalian itu lebih merasakan kesusahan dan pastinya lebih cepat mengerti akan kehidupan itu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s