Kapan Inginmu Menikah?

menikah

Postingan ini terinspirasi dari perbincangan ringanku dengan seorang teman, tentang kapan waktu yang pas untuk menikah. Menikah adalah sebuah keputusan penting dan biasanya hanya dilakukan oleh mereka yang memang sudah siap menjalin rumah tangga. Hal yang mengagumkan bagi saya adalah ketika banyak pasangan yang berani menikah di usia muda, yakni antara usia 19-24 tahun.

Dengan usia yang masih di bawah seperempat abad, mereka berani memulai kehidupan baru dengan saling melepaskan semua ego yang dimilikinya sebagai anak muda. Oia, mengapa usia 25 tahun tidak termasuk ‘usia muda’? Karena menurut saya usia 25 tahun itu adalah ‘usia wajar’ dan normal untuk menikah.

Tapi maaf lho untuk kamu yang masih belum menikah di ‘usia wajar’, tetaplah berusaha, semoga segera menikah. Meskipun belum pernah menikah, atau lebih tepatnya, belum bertemu jodoh, saya ingin sharing ke teman pembaca. Apa yang akan saya informasikan ini adalah hasil dari pengamatan pada peristiwa yang terjadi di sekitar.

Selain itu saya juga mendapatkan beberapa informasi dari teman dan keluarga mengenai bab pernikahan. Banyak orang merasa bahwa ber-rumah tangga adalah satu hal yang sangat berat untuk dijalani. Tapi yang akan saya bahas di sini adalah pilihan waktu yang tepat kapan seharusnya kita mulai berani menikah.

Kita bisa sepakati sebelumnya bahwa tidak ada batasan waktu minimum dan maksimum untuk menikah. Oke? Bahasan ini terinspirasi dari sebuah kisah sepasang suami-istri yang mengalami kesulitan secara ekonomi. Mungkin karena memang saat menikah, mereka belum mapan secara finansial.

Sebenarnya ketidakmapanan tidak bisa dijadikan penghalang sepasang sejoli dalam berikrar suci untuk saling mendampingi sehidup-semati menjalani kehidupan rumah tangga.

kemiskinan

Keluarga Tidak Mampu

Namun setelah menikah mereka mengalami tantangan berat dalam menjalani kehidupan bersama. Dalam urusan makanan saja mereka harus berjibaku untuk mendapatkannya, pakaian pun tidak begitu banyak, hanya beberapa potong saja, apalagi rumah. Dengan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga (istri) dan buruh pabrik (suami), pasangan ini bisa bertahan hidup saja sudah begitu bersyukur, apalagi memiliki rumah pribadi.

Singkat cerita, mereka hidup sebagai ‘kontraktor’ (tinggal di rumah kontrakan dan sering berpindah-pindah karena tidak mampu membayar lunas kontrakan saat jatuh tempo). Pertanyaannya, mengapa mereka mau dan berani menikah, saat hidup mereka masing-masing belum bisa dikatakan mapan? Mengapa mereka tidak menunggu dulu setidaknya sampai masing-masing memiliki pekerjaan yang mencukupi secara ekonomi?

Apa yang membuat mereka berani menikah dalam kondisi serba kekurangan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menggelayuti pikiran saya ketika sedang dalam perjalanan secara tidak sengaja melihat sepasang suami istri beserta anaknya mengendarai sepeda motor ‘buntut’ yang berulang kali mogok di pinggir jalan raya Sleman beberapa waktu lalu pada saat saya mencucikan mobil.

Terlihat sang bapak tampak kesulitan menstarter motornya. Rasa trenyuh yang saya rasakan bukan pada sang bapak dan ibu, namun pada anak mereka. Si anak nampak begitu kepanasan dengan peluh keringat mengalir di wajahnya. Dia pun terlihat begitu lelah ketika pada akhirnya membantu ayah ibunya mendorong sepeda motor itu menuju bengkel yang jaraknya cukup jauh dari tempat mogoknya sepeda motor.

Setelah merenung sejenak, saya jadi teringat kata-kata paman beberapa waktu sebelum ‘peristiwa’ sepeda motor ‘buntut’ itu terjadi. Beliau dengan bijaksananya menasihati saya agar segera mendapatkan pasangan hidup.

hidup-mapan

Tak Perlu Menunggu Mapan

Alasan di balik nasihat itu adalah saya tidak perlu menunggu mapan dulu sebelum menikah. Karena hal yang paling penting adalah ketika nantinya memiliki anak dan anak tersebut dibesarkan dengan kondisi serba prihatin, maka bisa dipastikan dia akan tumbuh menjadi anak yang tangguh. Dia akan memahami makna dari perjuangan hidup.

Mau ikut terpontang-panting dalam kesulitan hidup karena menjalani kehidupan penuh perjuangan bersama kedua orang tuanya. Dan benar saja kata paman, kebanyakan orang sukses memang sejak usia masih belia ikut merasakan kesulitan hidup kedua orangtuanya. Sebuah nasihat yang tak akan pernah saya lupakan.

Renungan saya tentang nasihat paman buyar seketika setelah melihat keceriaan keluarga kecil dengan motor ‘buntut’ tadi menemukan bengkel. Harapan untuk segera bisa menaiki motor buntut itu terpancar begitu jelasnya di wajah mereka. Ah… sebuah kisah nyata yang cukup mengharukan bagi saya.

Segera setelahnya saya beranjak dari tempat duduk yang disediakan tempat cucian mobil untuk melanjutkan perjalanan ke kota tujuan, Magelang. Mari kita ambil pelajaran penting dari kisah ini… bahwa waktu yang paling pas (baca: disarankan) untuk berani menikah adalah sebelum mapan secara finansial.

Tujuannya adalah anak yang dilahirkan saat kondisi prihatin mau tak mau dibesarkan dalam kondisi serba sulit sehingga bisa belajar arti perjuangan hidup. Tetapi ini kembali ke diri kita masing-masing, silakan memilih mau menikah sebelum atau setelah mapan. Yang terpenting jangan lupa pada konsekuensi yang akan datang menghampiri.

Untuk kamu yang belum menikah, saya doakan segera bersanding di pelaminan bersama sang pujaan hati… dan yang belum mendapatkan pujaan hati, semoga segera bertemu. Doakan juga buat saya ya… hehe.. terima kasih.. 🙂

Iklan

Satu pemikiran pada “Kapan Inginmu Menikah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s