Mengapa Blogging?

mengapa-blogging

Pertanyaan ini khususnya saya utarakan pada diri sendiri. Dan tentunya akan saya jawab sendiri. Malam ini entah datang darimana, inspirasi untuk menulis tentang alasan mengapa beberapa waktu terakhir ini saya jadi memiliki kesibukan dalam dunia blogging. Bukan sebagai ekonom atau bankir. Bukan pula pegawai pajak atau bea cukai.

Oh iya, satu lagi, mengapa tidak bekerja sebagai dosen saja? Ah, semua itu jika dibahas maka akan kembali berujung pada jawaban: jalan hidup dan pilihan.

Masuk ke dunia kerja

Banyak para mantan mahasiswa (alumni kampus), setelah lulus kuliah memikirkan bagaimana dan di mana mereka bisa mendapatkan pekerjaan dengan segera. Tidak terkecuali saya, meskipun ketika kuliah sangat terobsesi menjadi pengusaha. Singkat cerita, lulus kuliah saya rajin mengikuti Job Fair di berbagai kota besar di Jawa Tengah, selain itu rajin melamar pekerjaan melalui internet (apply online).

masuk-dunia-kerja2

Kemudian perlahan namun pasti sudah mulai bermunculan panggilan-panggilan tes kerja. Psikotest dan interview menjadi ‘hobi’ baru saya saat itu. Kemudian setelah menjalani berbagai proses dan penolakan, saya diterima sebagai pegawai salah satu bank swasta.

Tak berselang lama setelah mulai bekerja, saya segera bisa menyesuaikan diri pada lingkungan kerja sebagai seorang bankir. Kesannya dari luar sih keren dan klimis, padahal kerjanya juga tidak nikmat-nikmat banget. Kebetulan pada waktu itu saya bekerja sebagai marketing lending (menawarkan utang pada para pengusaha).

Setelah beberapa bulan bekerja, saya merasa ada yang tidak beres pada pekerjaan tersebut. Banyak pengusaha yang saya temui ternyata memiliki ilmu agama (islam) yang tinggi. Selaku bankir, tentu saya sangat senang bisa akrab dengan para pengusaha, karena itu pertanda bahwa mereka akan segera jadi nasabah bank swasta ini.

Hidayah datang

Setelah beberapa kali bertemu dengan calon nasabah, dua di antaranya (dalam waktu dan tempat yang berbeda) memberitahukan secara halus tapi mengejutkan saya bahwa bekerja di bank itu sama dengan mendukung permusuhan terhadap islam. Loh, kenapa begitu? Dengan sangat penasaran, saya bertanya: “Apa benar seperti itu, pak? Bisa tolong dijelaskan alasannya?”

Mulai dari sinilah pikiran saya terbuka pada bisnis bank yang sebenarnya dan belajar tentang seluk beluk perbankan melalui internet. Tidak sebentar waktu saya untuk mengakui kebenaran yang diungkapkan pada pengusaha ‘alim’ itu. Saya tetap berkeyakinan bahwa niat bekerja adalah untuk beribadah dan bisa hidup dengan kemampuan sendiri.

Bulan demi bulan berlalu, saya justru semakin tertarik mendalami ilmu agama. Sampai pada bulan ke 12 bekerja di bank, hati saya begitu tergetar disertai degupan yang cukup kencang. Dan mulai bertanya pada diri sendiri: “Apakah yang aku kerjakan selama ini benar? Apakah Allah SWT akan ridho dengan pekerjaanku sebagai seorang bankir ini?

Mengapa begitu banyak kontroversi bekerja di bank? Apakah tidak sayang ibadah wajib dan sunah yang ku lakukan selama ini, ternoda dengan pekerjaanku yang membantu bisnis yang mengambil untung dari peminjaman uang (yang dikenal sebagai bunga/riba)?” Sungguh takut hati saya pada ancaman Allah SWT dan Rasulullah.

Saya rasa saya berada di tempat yang tidak tepat. Dan di situ saya mulai yakin bahwa di luaran sana masih begitu banyak peluang untuk bekerja, jadi resign dari bank bukanlah satu masalah besar. Tiba pada saatnya saya harus mengambil keputusan. Dan ku kira ini merupakan salah satu keputusan terbesar dalam hidupku.

x-default

Saya benar-benar akan meninggalkan dunia perbankan dan kredit! Beberapa teman akrab dan sahabatku pun mendukung keputusan ini. Memang hidup itu kita sendiri yang menentukan dan menjalani, bukan orang lain. Tepatnya pada bulan ke 13 bekerja di bank, saya mengajukan surat pengunduran diri.

Ini keputusan berat karena harus meninggalkan pekerjaan dengan gaji yang tetap dan sangat mencukupi untuk kebutuhan seorang single seperti saya di kota. Surat resign pun baru disetujui 1 bulan kemudian karena dari pimpinan meminta saya untuk tetap tinggal hingga 2 tahun.

Tapi apa boleh buat, keputusan ini sudah bulat, setelah sekian bulan saya mempelajari dari buku, internet, dan televisi tentang bisnis perbankan dan konsekuensinya di akhirat. Akhirnya, permohonan resign saya pun disetujui bulan ke 14. Saya tidak pernah menyesali keputusan ini.

Teman-teman kampus saya sebenarnya banyak yang bekerja di bank, dan nampaknya mereka nyaman-nyaman saja. Entah kenapa ini seperti hidayah yang katanya tidak semua orang bisa mendapatkannya. Berat hati ini untuk menerima konsep bunga/riba pada awalnya, karena awalnya saya hanya berniat bekerja untuk bisa menghidupi diri dan tabungan untuk masa depan.

Namun setelah sekian bulan, hati saya menjadi mantap dan yakin bahwa keputusan yang diambil atas dasar keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT akan menghasilkan keberkahan hidup dan membuka pintu-pintu rezeki yang lain. Alhamdulilah, saya dengan semangat membuka lembaran baru. Dan mulai melamar pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak berhubungan dengan dunia perbankan dan kredit.

Kembali ke dunia blogging

blogging-pics

Tidak mudah memang untuk mendapatkan pekerjaan di era sekarang karena banyaknya persaingan. Namun saya tetap yakin suatu saat rezeki itu akan datang entah melalui pekerjaan halal yang mana. Sembari melamar pekerjaan, saya berpikir, kenapa tidak melanjutkan blog yang pernah dibuat saat masih di bangku kuliah?

Memang benar, saya akui, saya sangat berminat pada dunia internet marketing, blogging, dan bisnis online. Saat kuliah saya sangat aktif melakukan berbagai bisnis yang membutuhkan peran besar dari internet, dan hasilnya pun sangat lumayan, bisa untuk tambahan uang saku bulanan pada masa itu. Alhasil, kembalilah saya pada dunia blogging.

Lagipula tidak ada salahnya kembali pada kebiasaaan lama ini untuk mengisi waktu luang. Setelah beberapa bulan blogging, Alhamdulillah saya mampu mendapatkan penghasilan dari iklan. Di sisi lain saya juga mencari pekerjaan freelance menulis artikel. Alhamdulillah secara penghasilan cukup untuk saya bermain bersama teman-teman.

mengapa-blogging2

Saya pun mulai nyaman dengan kehidupan sebagai pekerja online ini. Nyaman, tanpa tekanan, tidak ada yang memerintah, waktunya fleksibel, dan potensi penghasilannya tidak terbatas (tergantung seberapa besar kemampuan kita bekerja). Ini adalah hidup yang sudah saya impikan sejak lama!

Bebas…  bisa bermain kapan pun yang ku suka, kapan pun, dan di manapun. Bebas tanpa aturan dan tekanan dari atasan, namun tetap produktif. Itulah alasan besar kenapa saya mempertahankan dunia blogging yang telah lama ku tinggal sejak pertengahan kuliah hingga usai bekerja di bank. Ini merupakan passion saya, blogging dan content writing.

Yang berhubungan dengan baca dan tulis saya suka. Oia, kebetulan hobi saya pun sebenarnya membaca, entah kenapa saat memiliki waktu luang ada yang kurang jika tidak membaca buku atau sekedar membaca berita/informasi di internet. Lantas, bagaimana jika saya kelak diterima bekerja di salah satu perusahaan?

freelance-writer

Bagaimana nasib blog-blog saya? Mungkin ada yang sedikit kurang pas pada pertanyaan itu.. bukankah untuk diterima di sebuah pekerjaan kita harus melamar dulu..? Nah.. ngomong-ngomong soal melamar pekerjaan lagi, entahlah… biar saya sendiri yang memutuskannya nanti… Because I’m doing what I passionate on and I enjoyed it… 🙂

Iklan

Satu pemikiran pada “Mengapa Blogging?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s