Saya dan Jum’atan

mosque

Tadi siang ada pengalaman yang kurang menyenangkan bagi saya. Saya share saja karena mungkin kamu suatu saat akan menemui kejadian serupa dan bisa mengatasi hal semacam ini dengan lebih baik. Hari ini di masjid, yang mana seluruh umat muslim setiap hari Jum’at menunaikan ibadah Jum’atan, situasinya tentu ramai tak bercelah.

Ketika sampai di masjid, saya mendapati suasana yang begitu ramai tak seperti biasanya. Ya, suasananya sangat padat. Ini bukan karena para jamaah Jum’atan datang lebih awal, tapi karena saya nya yang datang cukup terlambat ke masjid yang bukan langgananku biasanya.

Di tempat asal saya, pada jam yang sama suasana masjidnya tidak seramai ini. Masih ada banyak celah untuk diduduki. Jadi suasananya masih cukup longgar. Entah kenapa saya ingin Jum’atan di masjid yang tidak biasanya. Alhasil, saya menemui kepadatan para pria baligh di masjid itu.

khotbah

Beberapa menit setelah saya menemukan tempat kosong yang agak sempit untuk duduk menunggu Iqomah, sang Khotib selesai berkhotbah. Dan Iqomah pun dilantunkan dengan merdunya. Nah, kejadian yang kurang menyenangkan itu pun dimulai. Berduyun-duyun para jamaah berdesakan untuk mendapatkan shaf untuk menjalankan sholat Jum’at. Begitu pun dengan saya.

Sampai tiba pada saatnya saya menemukan (meski pun sedikit menyerobot) celah di antara shaf sholat. Di sana awalnya saya tidak mendapatkan celah sama sekali. Namun karena waktu semakin mendekati dimulainya sholat, dengan berani saya menepuk bahu seorang pelajar (masih memakai seragam SMA) dan menunjuk ke arah depannya dengan tujuan memberitahu bahwa ada celah shaf yang masih kosong (dan memang pada saat itu ada shaf kosong).

Namun ternyata di luar dugaan! Hanya dalam sepersekian detik celah tersebut diserobot oleh orang lain yang saya yakin usianya sudah di atas kepala 5. Entah karena tidak enak untuk menegur atau karena pasrah, akhirnya si pelajar tersebut mencari celah shaf lain dengan ekspresi bingung. Sebab, sepenglihatan saya memang situasinya sudah penuh sesak.

shalat-berjamaah

Setelah shalat dimulai, pikiran saya pada awal-awal shalat menjadi kurang khusyuk karena sedikit merasa tidak enak pada pelajar SMA tadi. Andai saja saya tidak memintanya untuk menempatkan diri pada celah shaf yang saya tunjuk, mungkin dia masih berdiri tegap di posisiku menunaikan shalat Jum’at.

Beberapa menit berselang, shalat Jum’at pun berakhir. Saya langsung berusaha mencari si pelajar tadi untuk meminta maaf dan sedikit berbasa basi dengan bertanya di mana dia akhirnya mendapatkan celah shaf untuk menunaikan shalat. Namun apa daya, hasilnya nihil! Saya tidak berhasil menemuinya lagi.

Dari kisah ini saya segera mengambil hikmah atas kejadian yang kurang menyenangkan bagi saya (dan bagi pelajar SMA itu tadi). Bahwa jika menunaikan shalat Jum’at di masjid yang tidak biasanya, saya harus berangkat lebih awal. Sebab kebiasaan warga masing-masing lingkungan cukup berbeda. Atau bisa jadi karena memang warga di satu lingkungan beberapa di antaranya tidak menunaikan shalat Jum’at di masjid tempat dia berasal, sama seperti saya hari ini.

minta-maaf

NB: buat yang lagi baca postingan ini, kalau kamu pelajar SMA yang saya maksud di atas, aku minta maaf ya..semoga di akhirat kelak kamu dapat tempat yang jauh lebih longgar dan nyaman sebagai pengganti celah shaf sempit yang kamu dapatkan di masjid siang ini. Amin 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s